Kamis, 24 Oktober 2013

Makna Lambang Pangarso Budi Utomo


LAMBANG PANGARSO BUDI UTOMO
ROSO MANUNGGAL JATI DENGAN PENGERTIANNYA
            
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, mempunyai lambang yang bentuknya sebagai berikut :
 

Gambar. Lambang Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati

Gambar tersebut terdiri dari :
1.     Bingkai Padi Kapas yang di atasnya ditemukan dengan Mahkota, tangkai dari pada Padi Kapas berkaitan dan diberi SUH (tali) yang masing-masing 4 (empat) buah, dibawahnya tertulis : ROSO MANUNGGAL JATI, diletakkan di atas pita merah putih.
2.     Sedangkan di dalam bingkai tersebut, terdapat segi 5 (lima) dengan dasar hitam dan di tengahnya terdapat gambar patung Wisnu.

 MAKNA LAMBANG
     Bahwa lambang Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, mempunyai arti sebagai berikut :
1.   Gambar Padi dan Kapas tangkainya saling kait-mengait diikat dengan pengikat masing-masing 4 (empat) ikatan, melambangkan :
Kemakmuran dan kesejahteraan yang saling berkaitan satu dengan yang lain, disini mewujudkan satu kesatuan yang harus diupayakan dan dibudayakan.
2.  Sedangkan ikatan masing-masing tangkai terdiri dari 4 (empat) ikatan yang mempunyai arti sebagai SUH (tali) atau pikukuh ikatan batin dari semua anggota manunggalkan rasa kesatuan dan persatuan, merasa satu keluarga, satu sumber, satu cecepan, kadang tunggal guru, tunggal banyu.
3.     Makutha yang di dalamnya ada gambar matahari bersinar, mempunyai arti sebagai berikut :
a.     “Mahkutha” mempunyai arti : Hasta Brata, yaitu Hasta = 8 (delapan), Brata = laku.
Yaitu menggambarkan watak manusia yang mempunyai 8 (delapan) sifat.
b.     Matahari yang mempunyai arti sumber kekuatan hidup yang diciptakan Tuhan Yang Maha Murah dan Asih.
Di tengah-tengah Mahkutha terdapat sinar menggambarkan adanya kekuasaan Tuhan Yang Maha Murah di anugerahkan kepada umat-Nya.
4.     Bahwa bingkai tersebut di bawahnya ada tulisan yang berbunyi : Roso Manunggal Jati, di atas pita merah putih, mempunyai arti : Merah berarti dari Ibu, dan Putih dari Ayah “(bapa)”.
5.   Di dalam bingkai terdapat segi 5 (lima) berdasar hitam, melambangkan : Keblat Papat Lima Pancer atau bumi tempat kita berpijak.
Di tengah-tengah segi 5 (lima) berdasar hitam, terdapat patung Wisnu duduk bersila (samadi) mempunyai makna : Dalam hal ini Wisnu sebagai Dewa Pemelihara dunia, sebagai juru pangruwat dari angkara murka, dengan warna kelengan melambangkan kelanggengan, bersikap samadi/ manunggal kepada “Hyang Maha Agung”.



         
         

Garis Besar Garapan Ilmu / Kawruh Paguyuban



GARIS BESAR GARAPAN ILMU/ KAWRUH
PAGUYUBAN PANGARSO BUDI UTOMO
ROSO MANUNGGAL JATI


I.         Kunci/ Wadah Kawruh
1.     “Panyuwunan” kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.     Laku Panyuwun kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3.     Didapat dari hanggeguru/ belajar.
3.1.          Dirinya sendiri.
3.2.          Diri orang lain (Guru ngelmu dan Guru laku).
4.     Laku brata, tarak brata/ bertapa.
II.      Isi Dari Ngelmu/ Isi Dari Kawruh
1.     Piandel/ eling, pracaya dan mituhu.
1.1.          Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
1.2.          Utusannya (sarining urip) atau Roh Suci yang telah berada di luar manusia disebut sari.
1.3.          Kalifah Allah (cipta, rasa, karsa) sarining urip (roh suci) yang menyinari pikiran/ akal dan budi yang masih berada di dalam tubuh manusia, juga dengan sari miring.
1.4.          Panuntun, Guru sebagai perantara menuju kedewasaan dalam berakal, berpikir, bersikap, dan berbuat (ngerti lan bisa).
1.5.          Bapak dan Ibu sebagai lantaran kelahiran hidup di dunia (alam madya).
2.     Laku atau pengamalan.
2.1.          Nuhoni wajib (baku harus dikerjakan).
2.1.1. Manembah :
2.1.1.1.     Umum : menurut agama masing-masing.
2.1.1.2.     Khusus : perlon/ samadi.
2.2.          Sikap pengendalian nafsu terhadap :
2.2.1. Dirinya sendiri.
2.2.2. Orang lain yang tunggal gayuh/ tunggal guru.
2.2.3. Orang lain yang berbeda kepercayaannya.
2.2.4. Orang lain yang satu bangsa.
2.2.5. Orang lain yang berbeda bangsa.
2.2.6. Alam dengan lingkuangan hidup serta segenap isinya.

2.3.          Rasa cinta kasih (tresna asih) kepada :
2.3.1. Terhadap dirinya sendiri (among raga, among rasa, among karsa).
2.3.2. Terhadap orang lain.
2.3.2.1.     Memberi pertolongan bagi yang membutuhkan.
2.3.2.2.     Kerja sama saling asah asuh asih.
2.3.2.3.     Menebalhan rasa sosial.
2.3.2.4.     Musyawarah untuk mufakat.
2.3.2.5.     Saling hormat menghormati hak dan kewajiban.
2.3.3. Terhadap lingkungan alam semesta dan segenap isinya.
Hewan kutu-kutu walang ataga, segala tumbuhan-tumbuhan.
2.4.          Mentaati wewaler/ larangan, petunjuk dan peringatan.
2.4.1. Tidak boleh menyiksa (bertindak semena) tehadap sesama hidup.
2.4.2. Tidak boleh melanggar Undang-Undang peraturan Negara.
2.4.3. Tidak boleh melanggar yang bukan semestinya.
2.4.4. Tidak boleh kutuk mengutuk (sepata hanyepatani).
2.4.5. Tidak boleh ingkar janji.
2.4.6. Tidak bolek bermusuhan.
2.4.7. Tidak boleh berkomplotan jahat.
2.4.8. Tidak boleh berbuat kericuhan.
2.4.9. Tidak boleh berbuat keji dan kotor.
2.4.10.       Tidak boleh berputus asa, putus harapan (nglokro).
2.5.          Meningkatkan tataran kemanusiaan.
2.5.1. Orang/ uwong/ janma wantah.
2.5.2. Janma manungsa (wong yang teah mengerti nistha, madya dan utama disebut janma limpat).
2.5.3. Janma winilis ialah janma yang telah dapat menggunakan akal pikiran, budi, sir cipta rasa karsa dengan sempurna dapat berhubungan dengan roh suci dalam pribadinya (dapat mendudukan sari miring).
2.5.4. Janma pinilih, telah mendekati kesempurnaan lahir dan batin, dapat membangun pedalemaning Gusti di dalam pribadinya. Manunggal dengan Jati, manunggal disini artinya : Cedhak ora senggolan, adoh tanpa wangenan dengan yang Maha Agung. Karena telah kelenggahan Sari (utusaning Gusti) sehingga dapat dikatakan manusia yang wicaksana, mengerti samobah mosiking jagad.
3.     Ilmu khusus : Ilmu tambahan berdasarkan sabdaning Gusti lewar sari utusan-Nya.
3. 1.    Dari jagad cilik sari miring/ Roh Bazariah dapat berwujud inspirasi osik lam mosik dari diri manusia dengan adanya getaran akal budi dan manunggalnya cipta, rasa dan karsa, diwujudkan dengan suatu karya/ budaya, dimana dipengaruhi oleh sifat, tabiat, tingkat kemanusiaan dan tingkat kejiwaan manusia itu sendiri. Sifatnya masih berubah-ubah/ sementara menurut keadaan dan kejadian/ situasi dijagad cilik dan jagad besar, sebab roh itu masih berada di dalam diri manusia (jagad alit) dan masih hidup di dunia (jagad gedhe) dipengaruhi oleh nafsu-nafsu yang disinari oleh cipta, rasa, dan karsa.
3. 2.     Dari Sari Methok/ Roh Qadim.
Berwujud wahyu, ilham, daya kekuatan Gaib, yang berada di luar diri manusia, berada dalam jagad gedhe, yang sifatnya telah dekat dengan kelanggengan/ kekal abadi tidak berubah-ubah, tidak berselisihan, tidak berlawanan, tidak kosok balen, tidak mangro tinggal, hanya bersifat satu ialah bener lan becik, sebab sari methok telah berbadan rohani (sarira bathara) sebagai suksma sejati, Guru sejati yang telah menunggal dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sabda Tuhan itu dapat diterima oleh manusia pinilih di dalam laku brata, semadi, yang melalui Teleng/ Pusat dari Pandulu, Pangrungu, Pangarsa, Pangambu, Pangucap di dalam puncak keheningan.
III.   Arah Dan Tujuan Penggunaan Ilmu Dan Laku
1.     Arah Penggunaan Ilmu dan Laku.
1.1.          Yang harus dicegah ngumbar hardaning pancadriya (nafsu).
1.2.          Yang harus diwujudkan :
1.2.1. Bengkas penderitaan/ menghilangkankemiskinan jiwa.
1.2.2. Berbuat kebajikan kepada sesama.
1.2.3. Pendekatan diri/ pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.     Tujuan Penggunaan Ilmu dan Laku.
2.1.          Hanggayuh kamulyaning hurip/ sampurnaning hurip lahir maupun batin di dunia.
2.2.          Hanggayuh kamulyaning hurip/ kasampurnaning hurip di akherat, dalam arti dapat kembali manunggal ke sumber sangkan-paraning hurip (Tuhan Yang Maha Esa).

Anggaran Dasar (AD) Paguyuban



ANGGARAN DASAR
PAGUYUBAN PANGARSO BUDI UTOMO
ROSO MANUNGGAL JATI

BAB I
NAMA TEMPAT DAN TANGGAL BERDIRINYA
Pasal 1
Perkumpulan ini bernama Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
Pasal 2
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini berkedudukan di Surakarta dan berpusat di Surakarta.
Pasal 3
Didirikan pada hari Sabtu Legi tanggal 1 Sura 1927 atau tanggal 11 Juni 1994. Dan didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
BAB II
AZAS, DASAR DAN TUJUAN
Pasal 1
Paguyuban ini berazaskan Pancasila.
Pasal 2
Paguyuban ini dalam menjabarkan azasnya di dalam hidup bermasyarakat dan hidup bernegara berlandaskan :
a.     Landasan idiil adalah Pancasila yang menjadi pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD 1945.
b.     Landasan konstitusional adalah UUD 1945 yang menjadi sumber hukum peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia.
c.      Landasan keyakinan adalah kepercayaan (keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab).
d.     Landasan operasional adalah Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila serta Garis-garis Besar Haluan Negara terutama bidang Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
e.      Landasan operasional adalah Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/1993.
Pasal 3
Paguyuban ini bertujuan dalam hidup bermasyarakat dan hidup bernegara degan jalan mempererat tali persaudaraan/ kekeluargaan, tolong menolong antara sesama anggota Paguyuban dan kepada orang lain yang dianggap perlu, serta “hangudi kabecikan, hangudi kasampurnaning hurip” dengan cara sebagai berikut :
a. Meningkatkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, melaksanakan perintahNya secara menjauhi yang menjadi laranganNya.
b.   Meningkatkan pengabdian kepada sesama manusia, tidak melanggar kesusilaan dan rela melaksanakan kegiatan untuk kemanusiaan tanpa mengharapkan balas jasa dari seseorang.
c.     Meningkatkan pengabdian kepada Negara dan bangsa yang tidak melanggar Hukum Negara/ Pemerintahan, dalam hidup bermasyarakat mewujudkan :
1. Kehidupan yang aman, tenteram, tertib dan dinamis bagi seluruh bangsa Indonesia.
2. Kehidupan yang maju, kesejahteraan lahir bathin bagi seluruh bangsa Indonesia yang berarti mengentaskan dari rasa kemiskinan lahiriah dan batiniah dan serta terlepas dari rasa keterbelakangan.
3. Kehidupan yang merdeka, adil dan cinta damai bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mewujudkan kemakmuran bersama.
Pasal 4
Memelihara Budaya Bangsa Indonesia sebagai perwujudan budi daya bangsa Indonesia yang dijiwai moral Pancasila, mengembangkan menuju ke arah kemajuan adab budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan/ unsur-unsur baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kasanah kebudayaan bangsa Indonesia, serta mempertinggi derajad kemanusiaan bangsa Indonesia.
Pasal 5
Membangun kepribadian manusia Indonesia seutuhnya, sejahtera lahir dan batin, sadar memelihara budi pekerti yang luhur, memegang tegh hukum Ilahi, hukum kemanusiaan dan hukum Negara yang merupakan cita-cita moral budaya yang luhur, sehingga terwujud keselarasan hubungan antara perilaku manusia dengan Tuhannya (melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya), antara perilaku manusia dengan sesamanya, antara perilaku dengan lingkungan alas semesta yang diciptakan oleh Maha PencintaNya, keserasian dan keselarasan hubungan antar bangsa untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia maupun kebahagiaan hidup di akherat.
Pasal 6
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini mewujudkan sikap yang ramah tamah, cinta kasih, menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran, adil, “kabecikan”, dan berjiwa besar.
Pasal 7
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini, tidak membeda-bedakan golongan, agama, kepercayaan, pangkat, derajad, dan semat serta tidak beraliran politik apapun.
Pasal 8
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini ikut mengusahakan tertampungnya segala aspek perikehidupan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di dalam perlindungan hukum Negara Republik Indonesia.
Pasal 9
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini, mendekatkan patrap pangucap, perilaku dengan hakekat/ intisari perintah Tuhan Yang Maha Esa sebagai jalan manunggalnya “kawula lan Gusti” (Tuhan Yang Maha Esa berkehendak perintahNya dilaksanakan, laranganNya di jauhi, manusia berkehendak melaksanakan perintah-perintah Tuhannya dan menjauhi laranganNya, jadi manunggal karep, manunggal kehendak).
BAB III
USAHA
Untuk mencapai tujuan”hangudi Kasampurnaning Hurip”, Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati berusaha :
a.     Meningkatkan penghayatan iman (percaya) terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b.     Meningkatkan penghayatan “sembah” (taqwa) terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
c.  Meningkatkan pengamalan (taqwa) intisari sabda Tuhan Yang Maha Esa ke dalam bentuk patrap dan pangucap sehari-hari.
d.     Meningkatkan kehidupan yang harmonis, sejahtera lahir dan batin.
e.     Meningkatkan kehidupan yang aman, tenteram tertib dan dinamis serta menghormati ajaran yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada umumnya.
f.   Meningkatkan kerukunan dan membina kerja sama antar sesama warga Peguyuban dengan penghayat/ penganut aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pemeluk-pemeluk agama yang ada dan hidup serta dilindungi di Indonesia, dengan menerima perbedaan “tembung”/ istilah dalam ajaran namun satu (tunggal) dalam “dunung” (pengertian) dan maknanya.
g.  Meningkatkan mental spiritual untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut di atas dengan jalan atau cara menelusuri “(napak tilas)” niali-nilai hidup kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, nilai- nilai kebudayaan dan adat istiadat peninggalan nenek moyang, yang merupakan pengejawantahan moral Pancasila, merumuskannya, mengevaluasi dengan keadaan kehidupan dimasa kini, dan mengarahkannya menuju kehidupan masa depan yang lebih baik, dengan tidak menyimpang dari kebijaksanaan Pemerintah, tidak melanggar peraturan-peraturan yang berlaku.
BAB IV
KEANGGOTAAN
Yang dapat diterima menjadi anggota Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini adalah semua orang yang sudah disyahkan berdasarkan syarat-syarat penerimaan keanggotaan.
a.     Yang memenuhi syarat-syarat ideal :
1.  “Kadang” penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal banyu dan Nunggal Tekad.
2.     Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Nunggal Tekad.
3. Perseorangan yang pribadinya nunggal tekad bertujuan menghayati dan mengamalkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan yang senyatanya.
b.     Yang memenuhi syarat-syarat hukum formal :
1.  Tidak terlibat dalam suatu organisasi terlarang atau gerakan yang menentang Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah Republik Indonesia yang syah.
2.   Menyetujui dan patuh terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati serta menyetujui/ mengakui dan patuh terhadap Pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
3.     Perseorangan dapat diterima menjadi anggota Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, apabila mendapat persetujuan dari pengurus Pusat.
BAB V
PENGURUS
Pasal 1
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini dipimpin oleh pengurus yang terdiri dari anggota yang telah syah mejadi anggota warga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Maunggal Jati, sedang susunannya akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 2
Susunan organisasi Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati terdiri dari Pengurus dan Anggota :
a.     1. Sesepuh Ajaran
2. Penasehat (Paranporo)
b.     Ketua Umum
c.      Ketua I, II, III
d.     Sekretaris
e.      Bendahara
f.       Umum
g.     Pengembangan dan latihan
Pasal 3
Ditiap-tiap kota atau daerah yang telah banyak anggotanya dapat dibentuk pengurus Cabang/ Perwakilan.
Pasal 4
Susunan Pengurus Cabang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan Cabang, tetapi tidak menyimpang dari dasar-dasar yang digariskan oleh Pusat dan diwajibkan berkonsultasi dengan Pengrus Pusat terlebih dahulu.
BAB VI
PERTEMUAN
Pasal 1
Pertemuan anggota diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.
Pasal 2
Pertemuan Pengurus diadakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.

Pasal 3
Pertemuan/ Rapat kerja dapat diadakan sewaktu-waktu apabila dipandang perlu dan adanya kata sepakat dari Pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
Pasal 4
Pertemuan dapat berbentuk pertemuan-pertemuan sebagai berikut :
1.     Pertemuan rutin antara Pengurus Pusat untuk penelitian, pengembangan, pengolahan, penyempurnaan laku untuk mencapai tujuan “(gegayuhan)” Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
2.     Pertemuan rutin antara Pengurus Pusat dengan Cabang untuk membahas cara pengembangan pengamalan laku mencapai tujuan “(gegayuhan)” kepada anggotanya.
3.     Pertemuan rutin untuk Pengurus Cabang dengan anggota untuk sarasehan melaksanakan pengamalan bagi anggota di dalam hidup bebrayan atau hidup bermasyarakat.
BAB VII
KEUANGAN
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini mempunyai pendapatan yang berupa :
a.     Bantuan suka rela dan sumbangan yang halal serta tidak mengikat.
b.     Usaha-usaha lain yang halal dan dianggap syah.
c.      Iuran dari anggota.
BAB VIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
a.     Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini, disempurnakan oleh Pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
b.     Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati hanya dapat dilakukan atas dasar keputusan yang diambil dalam musyawarah mufakat oleh Pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
 BAB IX
PERGANTIAN PENGURUS
Kepengurusan Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati dapat diganti apabila :
a.     Meninggal dunia.
b.     Pindah tempat.
c.      Tidak memenuhi kewajiban sebagai Pengurus.
d.     Tidak mentaati peraturan organisasi Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati yang merugikan organisasi.
e.      Kepengurusan berlaku 5 tahun, pergantian pengurus melalui sidang, pengurus lama dapat dipilih kembali.
BAB X
PEMBUBARAN
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati  bubar apabila :
a.     Sudah tidak mempunyai penghayat/ penganut lagi.
b.     Mematuhi keputusan Pemerintah untuk dibubarkan.
BAB XI
PELANGGARAN
Anggota-anggota Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati bisa dikeluarkan dari keanggotaan Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
a.     Mencemarkan nama baik Paguyuban.
b.     Tidak mentaati peraturan-peraturan Paguyuban.
c.      Melakukan tindakan yang merugikan dan yang bertentangan dengan norma-norma/ peraturan-peraturan Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
BAB XII
PENUTUP
Pasal 1
Segala sesuatu yang belum jelas dan belum diatur dalam Anggaran Dasar ini, akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
 Pasal 2
Hal–hal yang belum diatur dalam anggaran Rumah Tangga akan diatur dalam peraturan khusus.

Ditetapkan dan disyahkan oleh rapat Pengurus di Surakarta pada hari Kamis Wage tanggal 18 Agustus 1994.


Ketua Umum,                                                       Sekretaris Umum,
               Ramanto                                                          Ali Ridwan S. PdI.







         



         
         



         
         

         

ANGGARAN RUMAH TANGGA
PAGUYUBAN PANGARSO BUDI UTOMO
ROSO MANUNGGAL JATI

BAB I
NAMA DAN TEMPAT
Pasal 1
Nama Paguyuban : Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini tidak boleh disingkat.
Pasal 2
Daerah kerja Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia, berpusat di Surakarta.
Pasal 3
Jika dianggap perlu di tempat-tempat lain dapat diadakan perwakilan/ cabang Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati dengan sekurang-kurangnya 5 (lima) anggota.
BAB II
DASAR DAN TUJUAN
Pasal 1
Menjunjung tinggi nama baik keluarga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
Pasal 2
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati berazaskan menghimpun semangat ideal, moril dan materiil atas dasar Pancasila dan UUD 1945.
Pasal 3
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati di dalam partisipasinya ikut membangun negara berpangkal dan berpendirian bebas aktif, mengutamakan kerukunan sesama anggota Paguyuban dan masyarakat pada umumnya.
Pasal 4
Landasan operasional Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati adalah Garis-Garis Besar Haluan Negara terutama dalam bidang Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Pasal 5
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati bertujuan seperti apa yang tercantum dalam Bab II pasal 1 sampai dengan pasal 9 dalam Anggaran Dasar.
BAB III
USAHA
Pasal 1
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati “hangudi kasampurnaning hurip lahir bathin” dengan berusaha :
a.     Meningkatkan penghayatan iman terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b.     Meningkatkan penghayatan “manembah” terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
c.      Meningkatkan pengalaman intisari sabda Tuhan Yang Maha Esa ke dalam bentuk patrap dan pengucapan sehari-hari.
Pasal 2
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati di dalam rangka menggalang kerukunan berusaha :
a.     Menghimpun dan membina kerukunan sesama penghayat/ penganut Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, memikirkan kesejahteraan anggota yang dipandang perlu.
b.     Menghimpun dan membina kerukunan antara sesama anggota Paguyuban dan masyarakat pada umumnya dengan menerima adanya perbedaan-perbedaan tembung/ istilah dalam ajaran dan syaratnya, namun satu (tunggal dalam dunung/ hakekat pengertian) dan maknanya.
c.      Menghimpun dan membina kehidupan yang harmonis, sejahtera lahir dan bathin serta cerdas dan terampil, dan bersifat sosial kepada siapapun tanpa pamrih.
d.     Menghimpun dan membina kehidupan yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis, serta menghormati ajran-ajaran yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada umumnya.
Pasal 3
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati di dalam menjalankan pembangunan mental spiritual guna mewujudkan tujuan tersebut dengan jalan :
a.     Menelusuri/ ngleluri/ napak tilas nilai-nilai hidup dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

b.     Menelusuri/ ngleluri/ napak tilas nilai-nilai hidup kebudayaan dan adat istiadat peninggalan nenek moyang yang merupakan pengejawantahan moral Pancasila, dengan tidak menyimpang dari kebijaksanaan Pemerintah dan tidak melanggar UUD 1945 serta peraturan Pemerintah yang berlaku.
BAB IV
KEANGGOTAAN
Yang dapat diterima menjadi anggota Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, adalah semua orang yang telah disyahkan berdasarkan syarat penerimaan.
a.     Yang memenuhi syarat ideal :
1.     “Kadang” penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa “Tunggal Banyu dan Nunggal Nekad”.
2.     Penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa “nunggal nekad”.
3.     Perseorangan yang pribadinya “nunggal nekad” bertujuan menghayati dan mengamalkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dala kehidupan yang senyatanya dan sehat pikirannya.
b.     Yang memenuhi syarat-syarat hukum formal :
1.     Yang telah mengisi formulir pernyataan dan telah disyahkan oleh Ketua.
2.     Tidak terlibat organisasi terlarang atau gerakan yang menentang Pancasila dan UUD 1945, Negara dan Pemenrintah Republik Indonesia yang syah.
3.     Menyetujui dan patuh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati serta menyetujui/ mengakui dan patuh terhadap Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
4.     Perseorangan dapat diterima menjadi anggota Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, apabila mendapat persetujuan dari pengurus Pusat.





BAB V
PENGURUS
Pasal 1
Pengurus Pusat Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati terdiri dari :
a.     1. Sesepuh Ajaran
2. Penasehat/ Paranporo
b.     Ketua Umum
c.      Ketua I, II, III
d.     Sekretaris
e.      Bendahara
f.       Sie Pengembangan dan Latihan
g.     Umum
Pasal 2
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati mempunyai Sesepuh, Penasehat atau Paranporo yang berjumlah sekuarng-kurangnya masing-masing 2 (dua) orang.
Pasal 3
Di tiap-tiap kota atau daerah yang telah banyak anggotanya dapat dibentuk Pengurus Cabang atau perwakilan.
Pasal 4
Sususnan Pengurus Cabang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan Cabang tetapi tidak menyimpang dari dasar-dasar yang telah digariskan oleh Pusat dan diwajibkan berkonsultasi dengan Pengrus Pusat terlebih dahulu.
BAB VI
PERTEMUAN DAN RAPAT
Pasal 1
Pertemuan anggota lengkap diselenggarakan oleh pengurus Pusat.
Pasal 2
Pertemuan anggota diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.
Pasal 3
Pertemuan Pengurus diadakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.

Pasal 4
Pertemuan atau tempat kerja dapat diadakan sewaktu-waktu apabila dipandang perlu dan adanya kata sepakat dari Pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
Pasal 5
Pertemuan dapat dibentuk pertemuan-pertemuan sebagai berikut :
a.     Pertemuan rutin Pengurus Pusat untuk penelitian, pengembangan, pengolahan, penyempurnaan laku untuk mencapai tujuan “(gegayuhan)” Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
b.     Pertemuan rutin antara Pengurus Pusat dengan Cabang untuk membahas cara pengembangan pengalaman laku mencapai tujuan gegayuhan kepada anggota.
c.      Pertemuan rutin Pengurus Cabang dengan anggota, untuk sarasehan melaksanakan pengamalan bagi anggota di dalam hidup bebrayan atau hidup bermasyarakat.
d.     Pertemuan rutin antar anggota untuk melaksanakan kewajiban/ napak tilas, sarasehan, wiyosan, guna meningkatkan kerukunan.
BAB VII
KEUANGAN
Paguyuban ini mempunyai kekaaan dan pendapatan berupa :
a.     Bantuan sukarela dan sumbangan yang halal serta tidak mengikat.
b.     Usaha-usaha lain yang halal dan dianggap syah.
c.      Iuran dari anggota.
BAB VIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
a.     Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati ini disempurnakan oleh Pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
b.     Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati hanya dapat dilakukan atas dasar keputusan yang diambil dalam musyawarah mufakat oleh pengurus Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.


BAB IX
PEMBUBARAN
Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati bubar apabila :
a.     Sudah tidak mempunyai penghayat/ penganut lagi.
b.     Mematuhi keputusan Pemerintah untuk bubar.
BAB X
PELANGGARAN
Anggota-anggota Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati bisa dikeluarkan dari keanggotaan Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
a.     Mencemarkan nama baik Paguyuban.
b.     Tidak mentaati peraturan-peraturan Paguyuban.
c.      Melakukan tindakan-tindakan yang merugikan dan yang bertentangan dengan norma-norma atau peraturan-peraturan Paguyuban.
BAB XI
PERSELISIHAN
Segala perselisihan, kesalahfahaman antara sesama anggota akan diselesaikan secara musyawarah sebaik-baiknya berdasarkan kerukunan, “Hangudi Roso Manunggal Jati”.
BAB XII
PENUTUP
Segala sesuatu yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur khusus atas dasar kepurusan rapat Pengurus.
Ditetapkan dan disyahkan oleh rapat Pengurus di Surakarta pada hari Kamis Wage tanggal 18 Agustus 1994.

Ketua Umum,                                                       Sekretaris Umum,



              Ramanto                                                  Ali Ridwan S. PdI.